Heinz Guderian, Bapa Strategi Blitzkrieg Jerman (Part 2)

Dengan mengoperasikan pasukan elit Storm Troopers, Jerman menyerang pertahanan faksi sekutu dan berhasil menembus pertahanan musuhnya dengan pasukan Storm Troopers. Sekalipun awalnya serangan ini terlihat begitu menakjubkan, seiring berjalannya waktu berbagai masalah mulai muncul seperti meningkatnya jumlah korban maupun tidak adanya posisi-posisi strategi yang berhasil direbut oleh Jerman.

Karena begitu seringnya Jerman menyerang, tidak jarang unit-unit Storm Troopers yang sama digunakan kembali tanpa waktu istirahat yang memadai. Hal ini juga berdampak pada penurunnya efektifitas dan secara tidak langsung meningkatkan jumlah korban dari pasukan khusus ini. Selain itu, akibat keterbatasan sumber daya, militer Jerman hanya berhasil memproduksi sekitar 20 unit tank A7V. Berbagai faktor tersebut jika digabungkan menjadi satu berkontribusi menyebabkan kegagalan serang Jerman.

Memasuki pertengahan tahun 1918 jumlah pasukan Amerika yang bertempur di fron barat semakin meningkat. Kedatangan mereka membuat keseimbangan kekuatan kembali bergeser ke fraksi sekutu. Tidak mengherankan jika negara-negara fraksi poros semakin terdesak dan akhirnya meminta gencatan senjata. Perang dunia pertama resmi berakhir dengan kekalahan fraksi sentral, namun aku dan perwira-perwira Jerman lainnya tidak akan tinggal diam terlebih setelah ditandatanganinya perjanjian Versailles yang sangat merugikan dan menginjak-injak harga diri kami.

Karir Heinz Guderian Pasca Perang Dunia Pertama

Setelah perang dunia pertama berakhir, aku terpilih diantara 400 perwira tentara lainnya untuk melanjutkan baktiku pada tentara Republik Weimar yang jumlahnya sudah dibatasi. Aku diangkat menjadi staff dari komando pusat pelayanan penjaga fron timur. Juni 1919 aku bergabung dengan Brigade Besi atau Iron Brigade dan menjaga agar pengaruh komunis tidak masuk ke bangsa Jerman. Karena aku sendiri memang tidak menyukai paham komunisme maupun Uni Soviet.

Disisi lain aku juga membantu tentara putih Rusia atau tentara kerajaan Rusia dalam melawan tentara merah atau tentara komunis. Aku akhirnya masuk lagi ke batalion Jager setelahnya dan diangkat menjadi komandan. Kemudian aku juga bergabung kembali ke Truppenamt atau perwira tentara. Setelah bergabung aku dipromosikan menjadi mayor dan mengomandani satuan transportasi dan taktik motorisasi Jerman.

Disini aku berusaha mempelajari hasil kerja dari ahli taktis Inggris dan Prancis seperti J.F.C Fuller dan Giffard Martel. Pada tahun 1931 aku dipromosikan kembali menjadi Oberstleutnant atau lentan kolonel dan menjadi staff komandan di bagian tentara motorisasi yang pada saat itu dipimpin Oswald Lutz.

Pada oktober 1935, aku berhasil menjadi komandan divisi Panzer ke 2 yang baru dibentuk oleh Nazi Jerman. Aku menjadi mayor jenderal pada 1 agustus 1936 dan menjadi letnan jenderal pada 4 februari 1938 serta menjadi komandan Korps XVI. Ketika Jerman menjalankan invasi ke polandia, aku memimpin korps XIX yang terlibat pada peperangan Wizna dan pertempuran Kobryn. Aku dan pasukanku sukses memenangkan pertempuran itu.

Setelahnya aku dan pasukanku kembali terlibat dalam invasi Nazi Jerman ke Prancis. Penyerbuan ke Ardennes dan Meuse dalam waktu 3 hari kami jalankan yang membawa hasil positif dimana kehancuran besar dialami oleh pertahanan Prancis. Kecepatan taktik dan ketangkasan dalam memimpinlah yang membuat aku disebut sebagai Der Schenelle Heinz atau Heinz si cepat.

Taktik berlomba ke laun yang memojokkan Prancis ke laut sukses besar dan membelah pasukan Prancis menjadi dua yaitu di Prancis Utara dan Belgia. Aku dan pasukanku terus melanjutkan pengejaran hingga puncak keberhasil dicapai di Dunkirk. Pada tahun 1941, Aku memimpin grup panzer dalam operasi Barbarossa. Operasi ini adalah penyerangan ke wilayah Uni Soviet sekaligus membuka fron timur. Unitku dirombak ulang menjadi tentara Panzer ke 2 dan aku berhasil mendapatkan medali daun Oak setelah sebelumnya menerima Salib Ksatria pasca perang Smolensk.

Pada saat itu aku diinstruksikan untuk melancarkan serang  terakhir ke Moscow yang membuat aku dan pasukanku harus kembali menuju selatan. Aku sempat melakukan pemprotesan sebab sudah berhasil mengepung Kiev. Namun aku tetap mematuhi instruksi tersebut dan langsung menuju ke Moskow pada pertengahan september. Dengan datangnya musim dingin di Rusia yang sangat ganas, penyerang kami menjadi sangat terganggu. Serangan balik dari Uni Soviet akhirnya membuat penyerangan menjadi gagal.

Namun aku tidak diperkenankan untuk mundur dan bahkan aku sempat bersitegang dengan Hitler. Aku mengirimkan surat pribadi ke Hitler untuk memperbolehkan ku mundur, tetapi hal tersebut tidak digubris. Aku akhirnya memutuskan mundur secara terlarang yang membuatku juga bersitegang dengan marsekal lapangan Gunthe Von Klunge.

Karena kejadian tersebut, jabatanku akhirnya dicopot dan dikirim ke markas cadeangan. Jendral Erwin Rommel yang kesehatannya terganggu kemudian memintaku menggantikannya di Afrika karena menganggapku sebagai orang yang tepat. Namun permintaan itu ditoleh oleh Ober Kommando Der Whrmacht atau pusat komando Wehrmacht.

Setelah kekalahan Jerman di Stalingrad, Hitler berpikir bahwa aku bisa mengubah arah perang dan memintaku kembali bertugas. Aku kemudian meminta persyaratan agar diriku diberikan otoritas yang besar bagi pasukanku, Hitler akhirnya menyetujianya. Dengan begitu aku kembali bertugas sebagai Jendral yang bertanggung jawab atau angkatan lapis baja.

Aku ditugaskan untuk membangun kembali angkatan lapis baja Jerman yang sudah semakin melemah. Selain itu aku juga ditugaskan untuk langsung melaporkan kejadian seputar proses pembangunan angkatan lapis baja ke Hitler. Namun aku sendiri banyak bersitegang dengan para perwira lainnya sehingga sulit untuk berkoordinasi. Kegagalan juga terjadi dalam operasi Citadel yang merupakan penyerangan terakhir Jerman di Uni Soviet yang diakibatkan oleh sudah diketahuinya operasi ini oleh Soviet.

Pada akhirnya aku menjadi staff perwira tertinggi tentara jerman pada 21 Juli 1944 setelah insiden percobaan pembunuhan Adolf Hitler yang gagal. Setelah banyak kesalahan dan kekacauan pada akhir peran dunia ke 2. Aku akhirnya menyerah ke Amerika pada 10 mei 1945 dan menjadi tahanan perang. 17 juni 1948 aku dibebaskan dan kemudian menjadi penasihat dalam pembangunan militer Jerman Barat hingga meninggal pada usia 65 tahun.

Heinz Guderian, Bapa Strategi Blitzkrieg Jerman (Part 1)

Tahun 1948 adalah tahun dimana aku terbebas dari status seorang tahanan perang. Selama 6 tahun perang yang dimulai dengan invasi Jerman ke Polandia telah berpengaruh sedemikian besar bagi sejarah umat manusia. Ada begitu banyak korban baik dari pihak musuh maupun dari pihak kami sendiri. Salah satunya adalah Erwin Rommel, temanku yang telah melakukan begitu banyak hal demi negerinya namun harus kehilangan nyawanya 4 tahun lalu akibat konspirasi yang dilatar belakangi Der Fuhrer sendiri.

Sekalipun demikian, namanya akan tetap dikenal sebagai rubah gurun yang pernah menerjang padang pasir di Afrika. Selain Rommel, Jerman juga memiliki tokoh lain seperti Karl Donitz, Von Manstein yang kelak juga akan melegenda. Namun bagaimanakan dengan diriku?, aku adalah arsitek dari taktik Blitzkrieg, Blitz artinya petir dan Krieg artinya perang. Namaku adalah Heinz Guderian dan aku juga berada di perang dunia ke 2.

Perjalanan Hidup dan Karir Heinz Guderian Jendral Baja dari Jerman

Semua kisah ini dimulai di sebuah kota yang bernama Kulm yang berjarak 500 Km dari ibukota kekaisaran yaitu Berlin. Saat itu Polandia tidak ada dalam peta karena wilayahnya terbagi kepada 3 negara yakni Austria Hungaria, Rusia dan Prusia. Tanggal 17 Juni 1888, aku lahir sebagai seorang anak dari pasukan Jegger yang bernama Fredrich Guderian yang kelak akan menjadi seorang kolonel di militer kekaisaran Jerman.

Saat aku masih muda, aku memperoleh kesempatan untuk belajar di sebuah sekolah militer unggulan yang merupakan sekolah utama untuk kadet di kerajaan Prusia. Di sekolah itu aku sangat tertarik mempelajari mengenai berbagai hal yang akan membuat Jerman memiliki banyak keunggulan dalam pertempurannya di masa depan. Hal ini tidak mengherankan karena pada tahun 1912 kondisi politik global sedang panas-panasnya. Terlebih masalah yang terjadi di wilayah Balkan, sebuah wilayah yang diperebutkan oleh kesultanan Ottoman, kekaisaran Austria Hungaria dan kekaisaran Rusia.

Masalah pun memuncak ketika Bosnia akhirnya dianeksasi oleh kekaisaran Austria Hungaria 4 tahun yang lalu. Hal ini tentu saja membuat Rusia dan sekutu-sekutunya menjadi marah dan hal yang sama juga kami hadapi. Musuh bebuyutan kami, Prancis yang tidak pernah bisa move on dari kehilangan Elsace Lorraine, yang kami sebut dengan istilah Elsa Lothringen. 41 tahun yang lalu, Otto Von Bismarck telah mengalahkannya, menyatukan kekaisaran Jerman diatas kehancuran Prancis.

Dan selama itu juga Prancis tidak akan pernah bisa melupakannya. Mereka bahkan mengajarkan anak-anaknya mengenai paham revanchism atau balas dedam yang didasarkan atas kekalahan mereka dalam Franco Prussian War. Itulah mengapa sebagai seorang pemuda aku sangat percaya pada perkembangan teknologi. Terlebih setelah aku melihat bagaimana kesultanan Ottoman yang semakin sekarat karena ketidak mampuannya dalam mengejar teknologi dari negara-negara maju lainnya.

Salah satu perkembangan teknologi yang paling menarik bagiku adalah radio. Sebuah alat yang mampu mengirim informasi secara nirkabel, dalam militer informasi dan komunikasi adalah dua hal yang sangat penting. Pihak mana yang mampu berkomunikasi dengan lebih cepat tentu memiliki keuntungan untuk mengambil keputusan lebih awal dibandingkan lawan-lawannya.

Tidak mengherankan berbagai negara membangun berbagai infrastruktur sebagai cara untuk menghubungkan sekaligus mempersatukan wilayahnya. Penguasa-penguasa membangun dan mengoperasikan sistem kurir berkuda, menara pengawas, merpati pos dan lainnya. Semata-mata karena sadar betapa berharganya informasi yang terupdate, radio merupakan sebuah terobosan besar bagiku yang berhasil menyederhanakan komunikasi, memangkas waktu dan meningkatkan jangkauan.

Selain mengikuti perkembangan teknologi, aku juga mempelajari berbagai bahasa asing baik bahasa Inggris dan Prancis. Mengapa Inggris?, karena imperium Britania masih merupakan penguasa dunia dengan penguasaan teknologi yang sangat mengesankan. Mengapa Prancis?, karena mereka merupakan salah satu pemain utama di benua Eropa yang juga menjadi rival utama bagi bangsa Jerman.

Penguasaan bahasa asing merupakan jendela untuk mengakses beragam informasi penting secara langsung dari bahasa aslinya. Akupun memanfaatkannya untuk mempelajari beragam dokumen militer baik yang merupakan taktik perang maupun perkembangan terbaru dari bidang militer. Tahun 1914, perang dunia akhirnya dimulai, berbagai negara berusaha menggunakan berbagai cara  agar dapat menghancurkan lawan-lawannya.

Dari waktu ke waktu aku semakin melihat bagaimana teknologi dapat dikembangkan oleh kedua belah pihak demi memperoleh keunggulan didalam perang. Memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, ahli kimia Jerman yang bernama Fritz Haber mengembangkan senjata kimia dalam bentuk gas beracun. Uboat buatan kami juga terus dikembangkan.

Dimataku, perang ini merupakan perang modern, sebuah perang yang memperkenalkan dan mengembangkan berbagai inovasi-inovasi baru. Saat awal pernag berlangsung, aku hanya merupakan anggota batalion signal dari divisi kavileri ke 5. Pada saat itu komunikasi nirkabel masih belum efektif digunakan, hal justru semakin meyakinkanku betapa pentingnya komunikasi nirkabel.

Kedua belah pihak baik blok sentral maupun blok sekutu, keduanya berusaha menyelesaikan masalah ini dengan caranya masing-masing. Di tahun ke 2 dari perang ini terdapat beberapa peristiwa yang sangat menggemparkan. Jerman dan Prancis kembali bertemu di Verdun, sedangkan Italia si penghianat juga sedang di tekan oleh sekutu kami yaitu Austria Hungaria.

Namun di timur, ada sebuah negara yang awalnya dianggap remeh akan segera menunjukkan kekuatan yang sebenarnya. Negara ini pernah mengalami kekalahan yang sanagt memalukan di Tannenberg, sebuah negara yang bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Bagaimanakah mereka berperang?, Rusia bukan merupakan ancaman sebesar Prancis dan Inggris.

4 Juni 1916, sejarah membuktikan bahwa kami salah, tentara Rusia berhasil menyerang dan mengamankan kurang lebih 26.000 pasukan Austria Hungaria dengan menggunakan taktik yang dirancang oleh jendral Eleksei Brusilov. Hal ini mengingatkanku bagaimana Rusia telah belajar begitu banyak dari kekalahan mereka baik di Crimean War maupun di Tannenberg.

Jika di fron barat, serangan di tujukan ke parit pertahanan lawan, tidak demikian dengan taktik Brusilov yang hanya mengarahkan pasukannya ke poin-poin penting pertahanan lawan. Misalnya seperti parit pertahanan yang kurang dijaga atau jauh dari jangkauan senapan mesin. Apabila parit berhasil diamankan barulah pasukan lainnya menyerang parit-parit lainnya.

Taktik tersebut begitu mengesankanku dan para perwira Jerman lainnya. Kami semua ingin mempelajari taktik Brusilov, tidak mengherankan jika taktik itu akan diintegrasikan dengan konsep pasukan elit yang sednag dikembangkan para perwira Jerman. Hasil dari pengembangan itu akan muncul dengan nama Storm Troopers, sekalipun demikian nampaknya musuh kami juga sedang mempersiapkan kejutan. Pada tahun 1917 tepatnya di battle of cambrai dimana monster-monster baja dalam jumlah besar akan menyerang militer Jerman.

Otto Von Bismarck, Sang Pemersatu Jerman (Part 2)

Dengan posisi barunya, Ia mulai memikirkan pandangan geopolitik untuk mewujudkan suatu negara Jerman yang bersatu dibawah kepemimpinan Prusia. Bismarck tidak sendiri dalam mewujudkannya, panglima militer Prusia yang bernama Helmuth Von Moltke, maupun menteri pertahanan Prusia  yang bernama Albrenct Von Roon bekerja sama dengan Bismark untuk menyatukan Jerman.

Ketiga tokoh mulai bekerja sama sesuai dengan bidang, kemampuan dan kapasitasnya masing-masing. Usaha menyatukan Jerman oleh Bismarck dimulai dengan mengambil daerah yang bernama Schlewig Holstein dari Denmark. Penduduk yang tinggal di Holstein berbicara dalam bahasa Jerman namun mengaku Denmark sebagai kerajaannya.

Kesempatan tiba ketika Denmark menentukan kebijakan luar negeri dimana mengakui penuh atas wilayah Holstein. Kebijakan tersebut dijadikan justifikasi oleh Bismarck untuk merebut wilayah dari Denmark. Prusia yang dibantu oleh Austria mampu memenangkan perang tersebut sekaligus menduduki wilayah Holstein. Keduanya membagi wilayah tersebut melalui perjanjian.

Namun merasa tidak puas dengan isi perjanjian itu, Austria menuntun agar mereka diberikan wilayah yang lebih banyak lagi, hal ini segera ditolak oleh Bismarck. Bismarck memprediksi Austria akan mencoba meraih tujuannya dengan cara berperang. Hal ini membuat Prusia mengadakan aliansi dengan kerajaan Italian, kebijakan itu membuat militer dari Austria terbagi menjadi dua. Karena kini mereka juga harus menjaga perbatasan selatan dari Italian.

Tahun 1866 terjadi Austro Prussian War, beberapa hari kemudian Italian juga mengumumkan perang kepada Austria. Sekalipun berbagai negara di konvederasi  Jerman berpihak kepada Austria, mereka tetap tidak mampu bertempur dengan musuh di dua fron yang berbeda. Hal ini membuat Prusia dan Italian sama-sama tampil sebagai pemenangan, mereka juga mendapatkan wilayah baru atas kemenangannya.

Sekalipun unggul secara militer, Bismarck berusaha melawan keinginan dari pemimpin-pemimpin Prusia yang ingin mengambil alih wilayah Austria. Kebijakan ini diambilnya untuk menyisakan ruang sehingga Austria sehingga Prusia dapat membina hubungan yang baik dengan Austria di kemudian hari. Bismarck berusaha menjaga keseimbangan kekuatan di Eropa untuk mencegah reaksi dari negara-negara besar yang menganggap Prusia berkembang terlalu cepat dan menjadi ancaman.

Keberhasilan Bismarck dalam Menyatukan Wilayah-Wilayah Jerman Dibawah Kepemimpinan Prusia

Keberhasilan Bismarck menggabungkan wilayah-wilayah Jerman dibawah Prusia membuatnya semakin populer. Setelah perang berakhir, federasi Jerman segera dibubarkan, Prusia kemudian mendirikan Nordeutschbund yang berisikan wilayah-wilayah baru yang berhasil direbutnya dari Austria. Hal ini membuat Prusia menjadi kekuatan dominan dalam federasi tersebut. Perubahan geopolitik Eropa yang diakibatkan oleh Prusia membuat Prancis semakin khawatir.

Kekhawatiran Prancis semakin nyata ketika Spanyol juga mengalami krisis suksesi dan salah satu pengeran Spanyol adalah pengeran Leopold yang memiliki hubungan saudara dengan raja Prusia yakni Wilhelm I. Melalui kedubesnya, Prancis mengadakan pertemuan dengan raja Prusia untuk membahas penobatan pangeran Leopold sebagai raja Spanyol.

Pertemuan itu sebenarnya berlangsung lancar dan damai, ringkasan dikirimkan kepada Bismarck. Saat membaca tersebut, Bismarck melihat ringkasan tersebut sebagai kesempatan untuk memprovokasi Prancis menyerang Prusia. Dengan kecerdasan dan pengalamannya Bismarck berusaha memanipulasi laporan tersebut seakan-akan Prancis sedang sedang memprovokasi raja Wilhelm I yang hasilnya diterbitkan di Jerman dan raja Wilhelm I memprovokasi Prancis dan hasilnya di terbitkan di Prancis.

Bismarck berusaha menggunakan cara ini untuk memancing Prancis mendeklarasikan perang sehingga Prancis lah yang terlihat sebagai agresor. Langkah ini diambil untuk mengingatkan kenangan-kenangan dari negara Jerman bahwa kini bangsa Jerman sedang berada dibawah ancaman kembali seperti saat Napo0leon. Hal ini membuat negara-negara Jerman bersatu dibawah kepemimpinan Prusia untuk melawan ancaman asing dari militer Prancis.

Selain itu Bismarck juga berusaha negara-negara Jerman di wilayah selatan agar tertarik bergabung dengan bangsa Prusia dengan menggunakan ancaman bangsa asing. Uniknya hoax dengan level seperti itu bukan hanya berhasil, bahkan Prancis lah yang menyatakan perang terlebih dahulu yaitu pada 19 Juli 1870. Hal ini membuat opini internasional melihat Prancis sebagai agresor sehingga tidak banyak ikut campur dalam Franco Prussian War.

Berkat superioritas teknologi dan kedisiplinan militer, Prusia jauh lebih unggul dalam peperangan. Pada 2 September 1870 kaisar Prancis Napoleon ke III bahkan menyerahkan diri karena situasi yang sudah tidak memungkinkan lagi bagi Prancis. Kekuatan militer Prusia membuat negara-negara Jerman di selatan setuju untuk bergabung dengan Prusia. dengan bergabungnya semua negara-negara Jerman, upaya penyatuan yang dilakukan Bismarck berhasil.

19 Januari 1871, diadakan deklarasi berdirinya kerajaan Jerman yang bersatu dan mengangkat raja Wilhelm I sebagai Kaisarnya. Ini dilaksanakan di Versailles milik Prancis, 28 Januari 1871 Prancis menyerahkan wilayah Alsace Lorraine kepada Jerman. Atas pencapaiannya Bismarck diangkat sebagai konselor atau perdana mentri dari Jerman.

Pada tahun 1888, Wilhelm II naik tahta sebagai kaisar Jerman yang baru. Wilhelm II tidak menyukai kebijakan luar negeri yang hati-hati dan damai yang ditempuh oleh Bismarck. Wilhelm II menginginkan Jerman mengadakan expansi besar-besaran untuk menempatkan Jerman sebagai kekuatan dominan di Eropa dan dunia. Pertentangan antara Bismarck dan Wilhelm II  berujung kepada pengunduran diri Bismarck sebagai perdana menteri pada 1890.

Setelah turun dari jabatannya, Bismarck menghabiskan masa hidupnya dengan tinggal di Hamburg. Bismarck wafat pada 30 Juli 1898, sebelum pengunduran dirinya, Bismarck memperingati Wilhelm II jika ia terus menganut kebijakan ekspansionis, maka dalam 20 tahun kedepan akan runtuh. Peringatan Bismarck ternyata benar terjadi, akibat kebijakan ekspansionis dari Wilhelm II, Jerman terseret dalam salah satu konflik terbesar di dunia yaitu perang dunia I yang mengakibatkan kekaisaran Jerman yang dengan susah payah dibangun oleh Bismarck runtuh pada November 1918.

Otto Von Bismarck, Sang Pemersatu Jerman (Part 1)

Siapa yang tidak mengenal Jerman, negara yang sangat terkenal akan kemajuannya di berbagai bidang. Jerman yang kita kenal sekarang ini awalanya tidak lebih dari perkumpulan suku-suku bar-bar yang terus bertempur melawan invasi bangsa Romawi. Setelah kejatuhan Romawi barat suku-suku ini mulai membentuk negara-negara kecil yang kemudian dipersatukan untuk sementara waktu dibawah kepemimpinan Chalemagne yang adalah kaisar pertama dari kekaisaran Romawi Suci.

Kekaisaran ini diwariskan kepada Louis yang merupakan anak satu-satunya dari Char. Berbeda dengan ayahnya yang hanya memiliki satu orang anak, Louis sendiri memiliki 3 orang anak, kepada siapakah kekaisaran akan diwariskan?. Kaisar Louis memutuskan untuk membagi kekaisarannya menjadi 3 wilayah sesuai dengan jumlah anaknya.

Charles yang merupakan anak pertama mendapatkan wilayah Fransia barat, yang kedua Lothair mendapatkan Fransia tengah dan Louis II mendapatkan Fransia timur. Keputusan suksesi ini mungkin merupakan salah satu keputusan paling berpengaruh di sepanjang sejarah Eropa. Berbagai pertempuran yang terjadi di Eropa hampir semuanya dipengaruhi oleh keputusan ini.

Fransia barat perlahan berubah menjadi Prancis modern, Fransia timur perlahan menjadi Jerman modern. Sedangkan untuk Fransia tengah nasibnya adalah yang paling tidak beruntung, negara ini perlahan ambil alih oleh kedua tetangganya dan wilayah sisanya perlahan berubah menjadi Italia modern.

Fransia timur mewarisi status kekaisaran Fransia sebagai kekaisaran Romawi Suci. Kerajaan ini kelak akan melahirkan 2 kerajaan yang saling bersaing untuk memimpin negara-negara bagian di Jerman lainnya. Kedua kerjaan itu adalah kerajaan Prusia dan Austria, berbeda dengan rivalnya Austria yang lebih sering mengandalkan kemampuan diplomasi dan memanfaatkan keseimbangan kekuatan di Eropa. Kerajaan Prusia dikenal memiliki kemampuan yang sangat kuat.

Kekuatan Prusia tidak terlepas dari kepemimpinan para penguasa Prusia termasuk Raja Frederick I. Dibawah kepemimpinannya kerajaan Prusia menjalankan berbagai revormasi internal termasuk memperkenalkan kebijakan canton system yang kelak membuat Prusia memiliki rasio militer tertinggi di Eropa. Berbagai revormasi yang diterapkan oleh Prusia langsung diuji dalam perang 7 tahun dimana ia harus bertempur melawan pasukan koalisi dari berbagai negara disekitarnya.

Revormasi militer yang diterapkannya ternyata membuahkan hasil yang diinginkan. Berkat pasukan militer yang lebih terlatih dan taktik militer inovatif, Prusia bertahan melawan serangan demi serangan dari pasukan koalisi. Namun Prusia juga harus membayar mahal atas kemenangan tersebut dengan tingginya korban diantara pasukan-pasukan terbaiknya yang secara jumlah memang jauh lebih sedikit dibandingkan lawan-lawannya.

Sekalipun berhasil memenangkan perang 7 tahun, impian Prusia untuk memimpin Jerman sempat guncang oleh terjadinya revolusi Prancis yang memunculkan kepemimpinan Napoleon. Kebangkitan Napoleonic Prancis membuat Prusia dan Austria mengalami kemunduran yang signifikan. Kekaisaran Romawi Suci terpaksa dibubarkan akibat kegagalannya dalam perang Austerlitz. Sedangkan Prusia yang sangat disegani juga kehilangan berbagai wilayahnya akibat kekalahannya dalam perang Jena.

Kekalahan itu membuat negara-negara Jerman yang awalnya berada dibawah pengaruh Prusia mulai berpindah dibawah pengaruh Prancis. Negara-negara tersebut membentuk konfederasi Rhine dan memutuskan bersekutu dengan Napolean. Namun Napoleon mengambil beberapa kali keputusan yang salah seperti pada perang Spanyol, maupun invasi kekaisaran Rusia yang digagalkan musim dingin dan taktik bumi hangus. Napoleon mendapatkan pukulan paling mematikan dalam perang Waterloo dimana Prancis kalah saat melawan pasukan gabungan dari Inggris dan Prusia.

Tahun Tahun 1815, Konfederasi Jerman dibentuk sebagai pengganti konfederasi Rhine. Baik Prusia maupun Austria bergabung dalam federasi tersebut, keduanya menjadi kekuatan dominan yang saling bersaing memimpin Jerman. Pada tahun tersebut seorang bayi bernama Otto Edward Leopord Von Bismarck atau disingkat menjadi Otto Von Bismarck.

Ia lahir pada tanggal 1 April 1815 sebagai anak ke 4 dari keluarga bangsawan pemilik tanah yang tinggal di barat daya Berlin. Karena keluarganya berasal dari keluarga bangsawan atau mampu, tidak mengherankan jika Bismarck memperoleh pendidikan yang bergengsi. Tahun 1832 Bismarck mudah memutuskan melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi menjadi seorang mahasiswa hukum di Universitas Gottingen.

Di Universitas Gottingen ia bersahabat dengan seorang murid dari Amerika Serikat yang bernama John Lothrop Motley, John menggambarkan Bismarck muda sebagai orang yang ceroboh namun memiliki bakat dan kharisma. Setelah belajar di perguruan tinggi, ia pernah berkarir sebagai pengacara dan pernah terdaftar sebagai tentara Prusia sebelum kembali ke kampung halamannya untuk mengurus tanah milik keluarganya.

Perjalanan Karir Otto Von Bismarck Sebagai Seorang Politikus Jerman

Tahun 1847 Bismarck menikah dan memiliki 3 orang anak. Karir politiknya dimulai pada tahun itu pula dimana Bismarck terpilih sebagai anggota legislatif kerajaan Prusia dan bergabung dalam fraksi konservatif. Setahun kemudian terjadi revolusi besar di berbagai negara di Eropa yang terjadi karena berkembangnya ideologi Leberalisme dan Nasionalisme.

Berbagai negara yang termasuk kedalam Federasi Jerman tak luput dari gelombang revolusi itu. Masyarakat turun kejalan dan melakukan demostrasi untuk menuntut penyatuan berbagai negara di Jerman menjadi 1 negara. Meskipun di Jerman akhirnya mengalami kegagalan, namun ide tersebut tetap populer dikalangan rakyat Jerman. Sekalipun demikian, revolusi tersebut turut membuat perdana mentri Austria, Klemens Von Metternich kehilangan posisinya.

Jika Metternich jatuh, tidak demikian dengan Bismarck yang karir politiknya semakin menguat dibawah Raja Frederick Wilhelm IV. 4 tahun setelah Bismarck masuk ke politik, Raja Frederick menunjuknya sebagai diplomat untuk mewakili kerajaan Prusia dalam rapat konfederasi Jerman. Selain itu ia juga pernah ditugaskan sebagai duta besar Prusai baik untuk Rusia maupun Prancis. Tahun 1862, Dibawah kepemimpinan dari raja Wilhelm I, Bismarck diangkat sebagai perdana mentri dan merangkap sebagai mentri luar negeri dari Prusia.